“Hitam” Berteriak Lantang Soal Kebijakan Hukuman Primitif

“Hitam” Berteriak Lantang Soal Kebijakan Hukuman Primitif

Tidak puas dengan hanya merilis karya rekaman live mereka yang hadir dalam bentuk EP, Ruang”, kini Tashoora merilis debut rekaman studio mereka yaitu, Hitam.

“Di mini album Ruangkemarin, kami sudah mencoba membuat rekaman secara live. Kali ini kami mencoba untuk produksi lagu dan rekaman di studio,” ujar Dita.

Di antara sekian banyak isu sosial yang jarang dibicarakan, Tashoora kali ini mencoba mengangkat tentang isu tentang kebijakan hukuman yang terbilang primitif, yaitu hukuman mati, yang masih berlaku di Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang masih memberlakukan hukuman mati, dengan kasus terbanyak yang mendapat hukuman tersebut adalah narkoba, terorisme dan pembunuhan berencana,” ungkap Danang.

Danang pun menambahkan bahwa banyak yang percaya bahwa kebijakan tersebut dapat memberi efek jera pada para pelaku kejahatan, untuk kemudian berperan mengurangi angka kejahatan yang terjadi.

Tidak hanya sekadar bercerita soal kebijakan primitif ini, melalui Hitam”, Tashoora juga menggambarkan proses yang harus dijalani dalam kebijakan tersebut. Mulai dari tata cara pelaksanannya menurut Undang-Undang, jumlah personil regunya, hingga aba-aba yang tidak dilakukan secara verbal.

Cover artwork yang menyertai rilisan Hitammenampilkan karya fotografer Antonius Dian dan mengambil lokasi di Yogyakarta, para personil Tashoora dipotret dalam pose berbalut kain merah, lengkap dengan aksesoris penutup mata merah dan setangkai mawar di mulut. Hal ini merupakan interpretasinya atas lagu Hitam”, yang coba disampaikan melalui karya seni visual, tentang cinta kasih dan tragedi.

Sementara video klip resminya yang digarap Wregas Bhanuteja, menggambarkan pergulatan batin seseorang yang akan menjalani ekskusi.

Bersamaan dengan dirilisnya single Hitam”, Tashoora mendapat kesempatan dan kehormatan ditunjuk sebagai artis Early Noise 2019 oleh Spotify, yang merupakan inisiatif campaign dari Spotify untuk memperkenalkan potensi-potensi terbaru dalam musik. 

Disarikan dari rilis Mathias Manderos, 2019.