Browse By

BIOSKOP – Danur 2: Maddah

Seperti yang sudah kamu ketahui film Danur 2: Maddah merupakan kelanjutan dari film Danur yang dirilis pada tahun 2017 yang lalu.

Maddah bercerita tentang Risa (Prilly Latuconsina) dan adiknya Riri, memiliki seorang paman yang baru saja pindah rumah ke Bandung. Pamannya tinggal bersama Istri dan anaknya. Risa dan Riri pun sering berkunjung ke sana. Rumah sang paman terbilang besar dan terlihat kuno. Suatu ketika, keluarga tersebut mengalami beberapa kejadian aneh. Terlebih pamannya berubah sikap menjadi lebih dingin, setelah memasuki satu kamar pavilliun yang terbengkalai. Angki, sepupu Risa akhirnya meminta bantuan Risa untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Risa dan Riri pun akhirnya menginap di rumah tersebut. Risa pun akhirnya merasakan hal-hal aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Dibandingkan dengan film pertama, Maddah terasa lebih menyeramkan dan menegangkan. Sang sineas mampu mengemas adegannya dengan intensitas ketegangan yang tinggi. Unsur suspence yang tiada hentinya ini, hampir membuat penonton tidak memiliki jeda untuk istirahat. Adegan pada opening menampilkan sosok paman Risa beserta pengalamannya yang disajikan dengan teknik wawancara mampu membuat merinding serta membangun mood. Dengan teknik ini dengan tampilan aspek rasio fullscreen, adegan tersebut terlihat meyakinkan meyakinkan.

Hampir sepanjang film, peristiwa hanya terfokus di rumah sang paman. Terkadang aspek waktu agak kabur. Beberapa adegan, transisi waktu kurang begitu jelas sehingga kadang penonton tidak mengetahui bahwa waktu cerita ternyata berganti. Ada beberapa kejanggalan dalam cerita, seperti adegan di rumah sakit yang penggambarannya kurang wajar karena terlihat sangat sepi dan sudah tidak terpakai. Anehnya lagi, Risa bertemu dengan seorang ibu yang juga cenayang, secara kebetulan bisa membaca situasi Risa. Akan lebih cocok, misalkan saja adegan di rumah sakit adalah adegan mimpi yang menjadi satu perjalanan “spiritual” bagi Risa untuk memahami sesuatu. Penyelesaian cerita dan solusinya pun tidak menunjukkan Risa sebagai sosok yang sedang diuji dan mampu memahami sesuatu lebih dalam.

Anggapan bahwa film sekuel tidak akan sebaik film pertamanya coba dimentahkan oleh sang sutradara Awi Suryadi. Awi mencoba tampil lebih berani dan sedikit berbeda ketimbang film Danur yang pertama. Melalui film ini Awi menampilkan scene gambar dengan latar yang bagus meskipun untuk film horor. Bahkan Awi terlihat lebih “liar” dengan memainkan beberapa pengambilan gambar yang terbilan cukup ekstrim.

Jika kamu berharap akan banyak dialog di film ini, bersiaplah menanti beberapa kejutan. Hal ini karena Danur 2: Maddahingin menampilkan film dengan suasana yang hening, dipadukan dengan musik scoring yang mendebarkan. Belum lagi Jumpscare yang ditampilkan di film ini dan selalu membuat jantung penonton berdegup kencang menunggu adegan-adegan berikutnya di dalam film. Perpindahan antara adegan dengan adegan pun cukup rapi, dan jika disatukan menjadi satu bagian utuh dari sebuah film horor, maka Danur 2: Maddah terlihat lebih mengerikan. Prilly tetap tampil cukup baik, namun sosok Bucek yang memerankan Ahmad layak mendapatkan apresiasi. Ekspresi datar Bucek sebagai seseorang yang misterius cukup tepat untuk sebuah film horor.